Sabtu, 17 Desember 2011

EMPAT PERKARA YANG MEMPRIHATINKAN


EMPAT PERKARA YANG MEMPRIHATINKAN
            Ali bin Abi Thalib ra pada suatu hari sedang keluar dari rumahnya, mendadak Salman al-Farisi menghadangnya.”Bagaimana keadaanmu hari ini, ya Abu Abdillah?” Tanya Ali ra kepada Salman.
            “ Wahai pemimpin orang mukmin, pada hari ini saya berada di tengah-tengah empat perkara yang menyedihkan dan memprihatinkan,” jawab Salman.
“ Apa perkara yang memprihatinkan itu? Mudah-mudahan kamu mendapatkan kasih sayang Allah,” Tanya Ali.
Salman menjawab,”Empat perkara itu adalah pertama, prihatinnya para suami yang mencari nafkah . Kedua, prihatinnya Zat Pencipta yang memerintahkanku untuk taat kepada-Nya. Ketiga, prihatinnya setan yang mengajakku berbuat maksiat. Keempat, prihatinnya malaikat maut yang akan mencabut nyawaku.”
Sahabat Ali ra berkata,”berbahagialah wahai Abu Abdillah, sesunguhnya kami mendapatkan derajat dari setiap perkara di atas. Sesungguhnya pada suatu hari aku bersama Rasulullah Saw. Beliau bertanya,’Ya Ali, bagaimana engkau pagi ini?’”
Aku menjawab,”Ya Rasulullah, aku menemui empat perkara yang memprihatinkan. Pertama, Tidak ada sesuatu yang tersedia di rumahku selain air. Kedua, sesungguhnya aku orang yang prihatin dengan keadaaan perkembangan kaumku. Ketiga, prihatin untuk taat kepada Zat Pencipta. Keempat, prihatinnya pada malaikat maut.”
Nabi bersabda,            “ Berbahagialah wahai Ali, karena sesungguhnya prihatinnya keluarga dapat menjadi penghalang api neraka dan prihatin untuk taat kepada Allah adalah menjadi penyelamat dari siksa dan berprihatin pada hari kiamat adalah laksana perang di jalan Allah. Hal itu termasuk lebih utama daripada ibadah selama enam pluh tahun dan berprihatin terhadap malaikat maut dapat menghilangkan semua dosa.”
“Ketahuilah ya Ali”, lanjut Rasulullah,” bahwasanya rezeki semua makhluk hidup adalah dalam kekuasaan Allah. Oleh karena itu,keprihatinanmu tidak akan membawa guna dan tidak pula membahayakan melainkan bahwa kamu akan mendapatkan pahala dikarenakan keprihatinan kepada keluarga. Maka jadilah engkau orang yang bersyukur, yang taat dan penuh keyakinan. Jadilah kamu orang yang mendekatkan diri kepada Allah.”
Aku (sahabat Ali) bertanya,”Sesuatu yang mana yang harus kusyukuri?”
Nabi menjawab,” Islam.”
Aku bertanya kembali,”Apa lag yang harus aku ikuti?”
Nabi menjawab,”bacalah kalimat laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.”
Aku bertanya kembali,”lalu apa yang harus aku tinggalkan?”
Nabi menjawab,” dendam, karena menininggalkannya dapat meredam kemarahan Allah  dan dapat  memberatkan timbangan amal kebaikanmu dan dapat menghantarkanmu ke dalam surga.”
Salman al-Farisi berkata,”Mudah-mudahan Allah menambah kemuliaan kepadamu, sesungguhnya aku orang yang prihatin disebabkan perkara penting ini yakni keluarga.”
Sahabat Ali ra berkata,”wahai Salman, aku mendengar Rasulullah bersabda,’barangsiapa tidak prihatin untuk keluarga maka tidak ada jatah surga baginya.”
Salman al-Farisi berkata,"Apakah beliau tidak berbicara demikian bahwa orang yang mempunyai keluarga selamanya tidak akan beruntung?”
Sahabat Ali ra berkata,” Ya Salman, tidak begitu. Apabila pekerjaanmu halal maka kamu akan beruntung. Wahai Salman, bahwasanya surga akan sangat rindu kepada orang yang mempunyai keprihatinan dan kesusahan dari perkara yang halal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar