Minggu, 11 Agustus 2013

Celoteh Malam dan Kisah Ali bin Abi Thalib dengan Pendeta Yahudi (Oleh kompasianer AKA)



OPINI | 25 February 2013 | 16:15 
Malam ini kembali terjaga, akibat yang aku hasilkan dari kelalaian ku sore tadi. ya tadi selepas solat maghrib aku tertidur, tertidur cukup pulas. mungkin karena kondisi tubuhku yang saat ini memang kurang begitu sehat yang membuatku cukup mudah untuk tertidur. jam sembilan kurang 15 menit, aku terbangun, keluar kamar dan mendengar riuh tawa dari isi rumah yang sedang menonton Opera Van Java, acara yang seolah mau tidak mau ditonton bersama, dan aku lebih senang mereka menonton acara komedi ini ketimbang menonton sinetron yang minim kualitas. kadang aku heran dan salut kepada para pemain OVJ, setiap hari mereka tampil di depan TV, berusaha menghibur pemirsa agar tak lari ke program lain. mereka tertawa, bercanda menghibur pemirsa seolah dalam kehidupan sehari-hari mereka juga dipenuhi hal yang sama. aku sih yakin mereka bukannya tak memiliki masalah dalam hidup, hanya saja sikap profesionalitas kerja yang mereka miliki mampu mengelabui mata penonton yang juga sebenarnya tak begitu peduli dengan perasaan hati sang pelawak.


Aku terbangun, dan teringat akan sebuah agenda yang aku diundang untuk hadir ke sana. aku memang merencanakan untuk tidak hadir ke agenda tersebut dikarenakan memamng kondisi tubuhku yang hari ini agak sulit diajak kerjasama untuk berkegiatan normal. yang aku sesali adalah aku belum memberikan kabar mengenai ketidak-hadiranku malam ini. sesaat setelah mengingatnya, langsung kuraih ponsel, dan kukirim pesan singkat kepada sang ketua bahwa malam ini aku berhalangan hadir pada pertemuan perdana malam ini. ya, malam ini adalah pertemuan perdana kami sebagai satu keluarga baru. bagiku ini adalah pengalaman pertama, karena hampr 6 tahun aku membatasi diri pada aktivitas di kampus, dan kini saatnya aku mngabdikan diri untuk lingkungan terdekatku. walau aku terbilang baru, namun tanpa ampun, mereka langsung memberikan satu amanah yang cukup berat buatku. yah, aku tak bisa bilang tidak, karena ini bukan untuk ditolak. aku terima dan aku coba tuk jalani peran baru yang aku terima dalam sepenggal episode kehidupanku.


Tak lama setelah aku mengirim pesan singkat kepada sang ketua, aku mereasakan perutku berteriak meminta haknya. aku memang belum makan sejak tadi siang. tepatnya belum makan nasi dan kawanannya. aku lihat ke lemari makanan dan kudapati tak ada makanan tersisa. bahkan sesuap nasi pun tak ada, malangnya. namun kemalangan itu tak berlangsung lama, karena sesaat kemudian muncul adikku membawa sebungkus kwetiau rebus yang dibelinya di Depot Mie Surabaya. hmmm… ini salah satu kebiasaan yang aku sukai dari adikku, setiap ia gajian selalu ia membelikan untukku menu favoritku ini. Alhamdulillah, langsung saja kuambil mangkuk tuk mewadahi kwetiau super pedas porsi besar ini dan kunikmati tiap lembar kwetiau yang masuk ke mulutku.


Lagi asik menikmati kwetiau kesukaanku ini, ibuku keluar kamar untuk menggambil sebotol air, meminumnya tuk punahkan dahaga. melihatnya, aku ke dapur dan mengambil sebuah garpu yang aku siapkan untuknya. aku ajak ibuku tuk juga menikmati kwetiau lezat ini berdua. namun sayang ibu sudah kenyang, jadi tak bisa lama menikmati makan malamku ini. ia pun kembali memasuki kamar tidur setelah memastikan pintu dan jendela terkunci dan kemudian berpesan agar aku tak begadang. sayangnya nasihatnya tak aku jalani malam ini. maafin aku ya bu.


Selesai ku memenuhi hak tubuhku malam ini, walau sebenarnya sudah banyak yang mengingatkanku untuk tidak makan berat pada malam hari, namun apa daya lapar tak sanggup kutahan hee. kubuka laptop kesayanganku. kumatikan televisi, kunyalakan mp3 dan memilih beberapa lagu favorit tuk mendukung suasana hening malam ini sambil sesekali memantau lini masa di media sosial, membalas beberapa pesan, mengomentari beberapa kicauan, dan membaca beberapa artikel hingga kemudian aku memulai menuliskan tulisan ini. namun belum bisa aku tampilkan apa yang telah aku tulis malam ini, bukan karena tak percaya diri, namun karena khawatir tulisanku ini menimbulkan banyak persepsi yang tak sejalan dengan maksud hati. mungkin suatu saat nanti jika telah tiba masa yang tepat, aku bisa menampilkan tulisanku ini.


Sedang asyiknya mengetik, hape ku berbunyi. datang pesan dari seorang kawan yang menanyakan tentang suatu hal. isi pesannya adalah, “Aslm ka tau lima jenis makhluk yang berjalan d muka bumi. tp tak ada 1 makhluk tersebut yg dilahirkan dr kandungan? mohon jawabnya ka.” awalnya aku kurang mengerti dengan pertanyaannya namun aku baru ingat kalau yang ia tanyakan adalah sebuah pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh tiga orang yahudi kepada khalifah umar bin Khattab. aku sempat berpikir, anak ini bertanya kepadaku karena benar-benar tidak tahu dan ingin bertanya atau sekedar ngetes. tapi aku berhusnuzhon saja dan memang tak ada salahnya juga kujawab.


Aku menjawab bahwa kelima makhluk tersebut adalah Nabi adam, Siti Hawa, unta Nabi Shaleh, Domba Nabi Ibrahim, dan tongkat Nabi Musa yang kemudian menjelma menjadi ular. setelah mendapati jawaban dariku, kawanku ini langsung berucap terima kasih sambil sedikit memujiku. nah aku ingin sedikit mengutip kisah pertanyaan dari pendeta Yahudi tersebut kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. kisah ini memberikan hikmah kepada kita betapa pentingnya untuk menjadi orang yang berilmu dan memiliki wawasan luas.


Ini merupakan salah satu kisah yang dituliskan dalam kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah. diceritakan pada saat Umar bin Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah, “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.
“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar.
“Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) disaat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan dikala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda disaat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak diwaktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai disaat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berpikir sejenak, kemudian berkata, “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!”
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata, “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!”
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian tunggu sebentar!”
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!”
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: “Mengapa?”
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkat,: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!”


Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata, “Silahkan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasulullah SAW sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!”
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!” “Ya baik!” jawab mereka.
“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya, “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”
“Induk kunci itu,” jawab Ali bin Abi Thalib, “ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik laki-laki ataupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai kehadirat Allah!”
Para pendeta Yahudi bertanya lagi, “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib menjawab, “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!”


Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata, “Orang itu benar juga!” Mereka bertanya lebih lanjut, “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!”


“Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta,” jawab Ali bin Abi Thalib. “Nabi Yunus AS dibawa keliling ketujuh samudera!”


Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi, “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”


Ali bin Abi Thalib menjawab, “Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman AS putera Nabi Dawud AS, Semut itu berkata kepada kaumnya, ‘Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!”


Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya, “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan diatas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun diantara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!”


Ali bin Abi Thalib menjawab, “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular).”


Dua diantara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan, “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!” namun yang seorang lagi belum mau beriman karena masih ada satu hal lagi yang ingin ia tanyakan, yaitu pertanyaan seputar kisah Ashabul Kahfi. hingga akhirnya terjadi tanya jawab antara Ali dan pendeta tersebut tentang kisah Ashabul Kahfi, dan Ali mampu menjelaskannya dengan sangat baik.  sehingga  pada akhirnya pendeta yahudi itu berkata, “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan umat ini!”


kisah tersebut memberikan hikmah kepada kita akan pentingnya ilmu pengetahuan terlebih bagi mereka yang mengaku dirinya seorang dai. kita lihat bagaimana pendeta yahudi yang terpukau dengan keluasan pengetahuan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib sehingga membuat mereka yakin untuk memeluk agama islam.


“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(al-Mujaadilah: 11)